Pengenalan Estetika:

Estetika adalah segala sesuatu dan kajian terhadap hal-hal yang berkaitan dengan kegiatan seni. ( Kattsoff, Element of Philosophy, 1953)

Estetika merupakan kajian filsafat keindahan dan juga keburukan. ( Jerome Stoilnitz, vol.1)

Estetika adalah suatu ilmu yang mempelajari segala sesuatu yang berkaitan dengan keindahan, mempelajari semua aspek yang disebut keindahan. (AA Djelantik, Estetika Suatu Pengantar, 1999)

Ilmu Estetika Mengandung Dua Aspek:

  • Aspek Ilmiah (scientific aspect); menggunakan cara-cara kerja (metodologi) yang sama dengan ilmu pengetahuan lain: observasi (pengamatan), analisa (pembahasan), eksperimen ( percobaan).
  • Aspek Filosofis (philosophical aspect); selain yang diatas, ditambah dengan komparasi (perbandingan), analogi (mengentarakan unsur persamaan), asosiasi (pengkaitan), sintesis (penggabungan), dan konklusi (penyimpulan).

Plato memberikan contoh tentang keindahan fisik, dengan contoh suatu benda atau mahlukyang dikategorikan indah, sebenarnya melihat hal ini indah karena hanya karena ingatan manusia terhadap idea yang ada dalam pikirannya.

Idea merupakan salah satu unsur tetap yang ada di dunia selain unsur yang tidak tetap. Yakni pengertian yang dicari lewat  pemikiran; idea tumbuh karena kecerdasan berpikir yang pada hakekatnya telah ada dalam diri manusia.

Plato mempunyai teori tentang dunia; yang bertubuh dan tidak bertubuh. Yang bertubuh adalah hal-hal yang sifatnya lahiriah, bisa dilihat dan dialami, bisa berubah karena waktu atau sebab-sebab lain. Yang tidak bertubuh adalah yang tidak terlihat, yang abstrak itulah idea.

Teleologi (Logika yang tersusun dan menjurus pada satu tujuan yang sudah ditentukan). Sebagai idea tertinggi adalah kebaikan karena kebaikan dianggap sebagai sumber dari segala-galanya, kebaikan adalah penggerak dunia.

Dalam hierarki teleologi pada lapisan bawahnya adalah idea keindahan, idea estetika. Estetika adalah bayangan dari ide kebaikan estetika di dunia nyata dalam upaya manusia menuju kebaikan.

Estetika adalah penghubung antara dunia lahir dan dunia yang tidak tampak, sehingga seni dianggap sebagai mediator yang mampu mengungkapkan hal-hal yang tidak dapat diungkapkan. Seni memberikan penglihatan pada pemikiran spekulatif, sehingga yang buta dapat melihat transendensi.

Pengertian Klasik memisahkan antara “nilai estetika” dan “seni”. Nilai estetika atau keindahan yang dalam bahasa Yunani “Kalos” selalu dihubungkan dengan hal-hal yang berpengertian luas, seperti watak manusia atau keinginan luhur manusia.

Plato tidak pernah menyebut sesuatu sebagai karya seni, tetapi langsung ke objeknya, misalnya seekor kuda untuk patung kuda, seorang manusia untuk patung manusia. Seni baginya adalah suatu hasil pekerjaan, hasil kreatifitas individual yang reproduktif atau meniru alam.

Aristoteles berpendapat bahwa keindahan itu adalah atribut perlengkapan dan sifat yang melekat pada benda itu sendiri, yang menyebabakan timbulnya rasa indah pada sang peng amat. Memandang nikmat-indah sebagai peristiwa alam yang biasa dan memberi peranan lebih banyak kepada intelek manusia unruk menikmati keindahan.

Ciri-ciri utama yang dimiliki benda indah (menurut Aristoteles):

  • Harmoni, berukuran, dan berproporsi yang tepat. Pengukuran yang dilakukan terhadap sesuatu yang indah selalu terdapat keseimbangan.
  • Murni dan jernih. Karya seni itu tidak ada yang kurang jelas, yang samar. Kesemuanya harus tenang tidak keruh tidak berisi hal-hal yang meragukan dan semua dapat dimengerti dengan mudah.
  • Perfect sempurna,utuh, tidak ada cacatnya. Karya seni tidak ada cacatnya harus utuh, tidak ada yang kurang dan tidak ada yang lebih.

 

 

Advertisements